Wednesday, August 1, 2012

Serangga dan Alga : Makanan Daging Masa Depan Manusia

Serangga

Makin menepisnya persediaan daging di pasar dunia memaksa para ilmuwan berpikir keras tentang makanan masa depan kita, salah satu opsi, yaitu diet daging selama 20 tahun. Di Eropa, harga pangan memainkan peran penting dalam masyarakat sipil. Para ilmuwan telah melakukan percobaan transisi makan daging Serangga dan Alga.

Perwakilan PBB bersama dengan para pemimpin negara-negara Barat khawatir tentang apa yang kita makan dalam dua puluh tahun ke depan, karena keadaan alamiah bumi yang mengelilingi kita dan situasi ekonomi di seluruh dunia, tidak terlalu bermanfaat untuk membuatnya terus berkurang. Beberapa produk, seperti daging, di masa depan dapat menjadi suatu kemewahan. Dalam kasus negara-negara AS dan Uni Eropa. Itulah mengapa para ilmuwan mencari daging pengganti lebih murah. Beberapa proposal dari mereka terasa menjijikan, tetapi akan terlihat normal setelah satu tahun kemudian.

Serangga

Dua puluh tahun dari sekarang akan terdapat "ternak mini" serangga, seperti kumbang dan belalang. Daging serangga sangat bergizi dan mengandung protein, dalam kuantitas yang sama dengan daging sapi, memperhatikan bahwa serangga kurang mengkonsumsi air dari peternakan dan pertanian sehingga biaya pemeliharaan relatif murah.

Saat ini para ilmuan sedang mempelajari sekitar 1400 spesies serangga yang dapat dimakan. Tapi kemungkinan besar nyaris tak ada orang ingin menggunakannya dalam bentuk murni, namun para ilmuan menjanjikan akan menghadirkan daging serangga dalam komposisi makanan tertentu dan hidangan dalam bentuk bubuk. Dalam hal ini, Pemerintah Belanda telah berinvestasi dalam studi ini hampir satu juta euro.

Alga

Pada saat ini, ganggang adalah salah satu spesies yang paling populer dalam waktu dekat dapat membantu memecahkan masalah pangan dunia. Mereka dapat memberi makan orang dan binatang. Alga dapat tumbuh di laut, sangat aman, Alga dapat menghasilkan bahan bakar, yang jauh lebih murah daripada minyak, dan bukan hanya makanan.

0 comments:

Post a Comment