Tuesday, April 6, 2010

Askep Hipothermia dan Hiperthermia

kapukonline.com | Up-date Askep / Asuhan Keperawatan Hipothermia dan Hiperthermia - ASKEP ANAK. Ini adalah kelanjutan posting sebelumnya tentang Askep BBL (Bayi Baru Lahir) Sakit

HIPOTHERMIA dan HIPERTHERMIA

HIPOTHERMIA

Suhu normal pada neonatus berkisar antara 360C - 37,50C pada suhu ketiak. Gejala awal hipothermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipothermia sedang (suhu 320C - <360C). Disebut hipothermia berat bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipothermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipothermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.

Yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat hipothermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.

Etiologi dan faktor presipitasi
  1. Prematuritas
  2. Asfiksia
  3. Sepsis
  4. Kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral
  5. Pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran
  6. Eksposure suhu lingkungan yang dingin
Penanganan hipothermia ditujukan pada:
  1. Mencegah hipothermia
  2. Mengenal bayi dengan hipothermia
  3. Mengenal resiko hipothermia
  4. Tindakan pada hipothermia
Tanda-tanda klinis hipothermia:
  1. Hipothermia sedang:
    1. Kaki teraba dingin
    2. Kemampuan menghisap lemah
    3. Tangisan lemah
    4. Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
  2. Hipothermia berat
    1. Sama dengan hipothermia sedang
    2. Pernafasan lambat tidak teratur
    3. Bunyi jantung lambat
    4. Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik
  3. Stadium lanjut hipothermia
    1. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
    2. Bagian tubuh lainnya pucat
    3. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)

HIPERTHERMIA

Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.

Gejala hiperthermia pada bayi baru lahir :

  1. Suhu tubuh bayi > 37,5 C
  2. Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
  3. Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, jumlah urine berkurang

Pengkajian Hipothermia dan Hiperthermiaa

  1. Riwayat kehamilan
    1. Kesulitan persalinan dengan trauma infant
    2. Penyalahgunaan obat-obatan
    3. Penggunaan anestesia atau analgesia pada ibu
  2. Status bayi saat lahir
    1. Prematuritas
    2. APGAR score yang rendah
    3. Asfiksia dengan rescucitasi
    4. Kelainan CNS atau kerusakan
    5. Suhu tubuh dibawah 36,5 C atau diatas 37,5 C
    6. Demam pada ibu yang mempresipitasi sepsis neonatal
  3. Kardiovaskular
    1. Bradikardi
    2. Takikardi pada hiperthermia
  4. Gastrointestinal
    1. Asupan makanan yang buruk
    2. Vomiting atau distensi abdomen
    3. Kehilangan berat badan yang berarti
  5. Integumen
    1. Cyanosis central atau pallor (hipothermia)
    2. Kulit kemerahan (hiperthermia)
    3. Edema pada muka, bahu dan lengan
    4. Dingin pada dada dan ekstremitas(hipothermia)
    5. Perspiration (hiperthermia)
  6. Neurologic
    1. Tangisan yang lemah
    2. Penurunan reflek dan aktivitas
    3. Fluktuasi suhu diatas atau dibawah batas normal sesuai umur dan berat badan
  7. Pulmonary
    1. Nasal flaring atau penurunan nafas, iregguler
    2. Retraksi dada
    3. Ekspirasi grunting
    4. Episode apnea atau takipnea (hiperthermia
  8. Renal
    1. Oliguria
  9. Study diagnostik
    1. Kadar glukosa serum, untuk mengidentifikasi penurunan yang disebabkan energi yang digunakan untuk respon terhadap dingin atau panas
    2. Analisa gas darah, untuk menentukan peningkatan karbondoksida dan penurunan kadar oksigen, mengindikasikan resiko acidosis
    3. Kadar Blood Urea Nitrogen, peningkatan mengindikasikan kerusakan fungsi ginjal dan potensila oliguri
    4. Study elektrolit, untuk mengidentifikasi peningkatan potasium yang berhubungan dengan kerusakan fungsi ginjal
    5. Kultur cairan tubuh, untuk mengidentifikasi adanya infeksi

Diagnosa keperawatan

  1. Dx.1. Suhu tubuh abnormal berhubungan dengan kelahiran abnormal, paparan suhu lingkungan yang dingin atau panas.
    1. Tujuan 1: Mengidentifikasi bayi dengan resiko atau aktual ketidakstabilan suhu tubuh
      1. Tindakan:
        1. Kaji faktor yang berhubungan dengan resiko fluktuasi suhu tubuh pada bayi seperti prematuritas, sepsis dan infeksi, aspiksia atau hipoksia, trauma CNS, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin, trauma lahir dan riwayat penyalahgunaan obat pada ibu
        2. Kaji potensial dan aktual hipothermia atau hiperthermia :
          1. Monitor suhu tubuh, lakukan pengukuran secara teratur
          2. Monitor suhu lingkungan
          3. Cegah kondisi yang menyebabkan kehilangan panas pada bayi seperti baju basah atau bayi tidak kering, paparan uadara luar atau pendingin ruangan
          4. Cek respiratory rate (takipnea), kedalaman dan polanya
          5. Observasi warna kulit
          6. Monitor adanya iritabilitas, tremor dan aktivitas seizure
          7. Monitor adanya flushing, distress pernafasan, episode apnea, kelembaban kulit, dan kehilangan cairan.
    2. Tujuan 2. Mencegah kondisi yang dapat mencetuskan fluktuasi suhu tubuh
      1. Tindakan:
        1. Lindungi dinding inkubator dengan
          1. Meletakkan inkubator ditempat yang tepat
          2. Suhu kamar perawatan/kamar operasi dipertahankan + 24 C
          3. Gunakan alas atau pelindung panas dalam inkubator
        2. Keringkan bayi baru lahir segera dibawah pemanas
        3. Air mandi diatas 37 C dan memandikannnya sesudah bayi stabil dan 6 – 12 jam postnatal, keringkan segera
        4. Pergunakan alas pada meja resusitasi atau pemanas
        5. Tutup permukaan meja resusitasi dengan selimut hangat, inkubator dihangatkan dulu
        6. Pertahankan suhu kulit 36 – 36,5 C
        7. Sesedikit mungkin membuka inkubator
        8. Hangatkan selalu inkubator sebelum dipakai
        9. Gendong bayi dengan kulit menempel ke kulit ibu (metode kangguru)
        10. Beri topi dan bungkus dengan selimut
    3. Tujuan 3: Mencegah komplikasi dingin
      1. Tindakan:
        1. Kaji tanda stress dingin pada bayi :
          1. Penurunan suhu tubuh sampai < 32,2 C
          2. Kelemahan dan iritabilitas
          3. Feeding yang buruk dan lethargy
          4. Pallor, cyanosis central atau mottling
          5. Kulit teraba dingin
          6. Warna kemerahan pada kulit
          7. Bradikardia
          8. Pernafasan lambat, ireguler disertai grunting
          9. Penurunan aktivitas dan reflek
          10. Distesi abdomen dan vomiting
        2. Berikan treatment pada aktual atau resiko injury karena dingin sebagai berikut :
          1. Berikan therapy panas secara perlahan dan catat suhu tubuh setiap 15 menit
          2. Pertimbangkan pemberian plasma protein (Plasmanate) setelah 30 menit
          3. Berikan oksigen yang telah diatur kelembabannya
          4. Monitor serum glukosa
          5. Berikan sodium bikarbonat untuk acidosis metabolik
          6. Untuk menggantikan asupan makanan dan cairan, berikan dekstrose 10% sampai temeperatur naik diatas 35 C
  2. Dx.2. Defisit pengetahuan (orangtua) berhubungan dengan kondisi bayi baru lahir dan cara mempertahankan suhu tubuh bayi.
    1. Tujuan: Memberikan informasi yang cukup kepada orangtua tentang kondisi bayi dan perawatan yang diberikan untuk mempertahankan suhu tubuh bay
      1. Tindakan:
        1. Beri informasi pada orangtua tentang :
          1. Penyebab fluktuasi suhu tubuh
          2. Kondisi bayi
          3. Treatment untuk menstabilkan suhu tubu
          4. Perlunya membungkus/menyelimuti bayi saat menggendong dan bepergia
        2. Ajari orangtua cara mengukur suhu tubuh aksila pada bayi dan minta mereka untuk mendemontrasikannya
        3. Informasikan kepada orangtua tentang perawatan saat bayi di inkubator
        4. Anjurkan pasien bertanya, mengklarifikasi yang belum jelas dan menunjukkan prilaku seperti diajarkan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Doenges, Marilyn E., Maternal/Newborn Care Plans : Guidelines for Client Care, F.A. Davis Company, Philadelphia, 1988
  2. Markum, A.H., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1991
  3. Melson, Kathryn A & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse Pennsylvania, 1994
  4. Wong, Donna L., Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby-Year Book Inc., St. Louis Missouri, 1990

Posting berlanjut dan tak terpisahkan dengan posting selanjutnya tentang Askep / Asuhan Keperawatan Bayi Lahir Prematur

Semoga ada manfaatnya...

0 comments:

Post a Comment